Jadi IRT tanpa ART? Siapa Takut!


Pict: kanal.co


“Nanti gimana di Rantau, gak ada sodara… gak ada keluarga. Cari ART aja, ya!”
“Repot loh sama duo krucil yang masih pada suka ngintil, nanti kalau ada apa-apa gimana? Kan suami kerja!”
“Dibantu sama ART aja, biar semua aman terkendali. Gak terlalu cape dan bisa istirahat!”

Ya...ya...ya, begitulah kira-kira kesan dan pesan pertama saat orang tua dan keluarga dekatku pada heboh ketika tau aku fix memutuskan untuk ikut merantau lagi ke suatu desa kecil di pulau Borneo, Kalsel. Begitu perhatiannya, bukan? Hihi. Tau kali ya, rempongnya diriku sebagai emak dua anak, yang satu masih balita, satunya lagi masih bayi yang baru banget bisa jalan. 

Jujur aja sih, awalnya sempat masuk ke alam bawah sadar tuh saran dan perhatiannya para orang tua itu. Sampai-sampai saat itu juga tiba-tiba nge-WA suami dan basa-basi mau dicariin ART. Saat itu, posisinya suami sudah menetap di Kalimantan. Aku yang tiba-tiba, ngechat, “duh hari ini super hectic, tadi kejadian gini loh….gitu loh…, untung aja ada mamah yang bantuin, kalau gak, wow deh!”. Haha prolog menuju rayuan. Berapa detik kemudian, aku pun menambahkan, “hmm… kayaknya nanti butuh temen deh, mudah-mudahan Bi Ijah ada, ya!”. Ini emak-emak banget ya bahasanya #apaakuajah. Kenapa gak to the point aja. :D Tapi beruntungnya punya suami yang sangat pengertian walaupun chat berbalas lama tapi jawabannya melegakan, "Oke! Itu gampang aja". Ini maksudnya di Acc kan, ya. #emaklega

Saat tiba di perantauan.
Napas panjang… fiyuuh hari-hari akan berubah tidak seperti biasanya. Kami hanya tinggal berempat di sebuah rumah kontrakan. Cuma bertiga di siang hari, Bunda, anak ganteng, dan anak cantik. Gak ada saudara, mamah, atau bapak yang bisa dititipin anak saat emaknya harus menyelesaikan 1001 pekerjaan domestik yang gak ada habisnya. 

Mengerikan? Sekilas tampaknya begitu. Tapi faktanya, saat suami yang baik hati itu kembali menawarkan, “Mau hubungi Bi Ijah untuk bantu-bantu?”. Jawabanku, “Gak usah,” sambil senyum-senyum. Tapi beneran jawaban ikhlas, loh, bukan semata-mata jaim, hanya ingin terlihat sok tangguh, gitu? Enggak. Jujur aku sungguh menikmatinya dan ternyata aku juga jadi tahu bahwa aku bisa lebih mandiri. #ehm

Nah, apa karena menikmatinya otomatis tidak capek? Ya tetap capek. Secara fisik tubuh terus bekerja. Masing-masing anggota badan memainkan peran menunaikan tugas-tugasnya, mengeluarkan energi, malah kadang diporsir, ya pasti ada titik lelahnya.

Beraktivitas sehari-hari dengan dua anak tanpa ART, jelas sangat menantang. Dimana segala pekerjaan harus bisa selesai di tangan sendiri, dengan kondisi harus tetap aman terkendali.

Ya, faktanya:
"Banyak pekerjaan yang harus tuntas tapi waktu terbatas
Harus tetap ceria walau banyak tingkah anak yang menggoda
Harus tetap cantik dan sehat tapi nyatanya seharian berkeringat"
Jadi, bagaimana trik menghadapi tantangan tersebut?
Kita coba praktekkan bareng-bareng, yuk!


  • DISIPLIN



Kunci mengatasi keluhan tantangan nomor 1. Kalau sudah tercatat di to-do list hari ini harus ngerjain tumpukan strikaan, maka harus dilaksanakan! Jangan tergoda dengan hal lain yang bisa membuang waktu. Kerjakan tanpa harus dipikirkan. (ini pesen suami kalau doi udah liat tanda-tanda ngeluh muncul di mulut istrinya, :D).


  • Bangun, mandi, dan sarapan LEBIH PAGI



Ini tips untuk membangun mood lebih jernih saat mengawali hari. Dengan kondisi fisik dan mental yang segar, kita sudah lebih siap menghadapi godaan-godaan dan tantangan di depan mata. Mungkin anak-anak rewel dan ngeyel saat diajak mandi pagi, susah makan saat sarapan malah mau nyamil ciki? cucian yang ternyata seabreg? Kita bisa atasi dengan kondisi yang relatif tenang karena mood kita sedang baik. Beda kan rasanya, saat anak-anak mulai menggoda sedangkan kondisi kita masih gak mood, berantakan, dan lapar? 


  • Sempatkan Me Time!



Mana ada waktu? Ada. Alokasikan, sempatkan! Ini penting untuk menjaga kewarasan dan kestabilan emosi dan fisik kita. Cukup lah ya 10-15 menit untuk baringan pakai eye masker. Atau ngopi sehat di pagi hari sebelum mulai beraktivitas? Baca buku ditemani jus lemon dingin saat sore hari sebelum suami pulang kerja? Bisa. Pasti bisa. Memang, bisa saja kita memutuskan 15 menit berharga itu untuk beres-beres hal lain. Tapi ingat loh, kondisi kebahagiaan kita juga perlu dirapiin. Hihi. So, itu pilihan Anda! 


Jadi, jadi, jadi….
Bekerja di rumah tanpa ART? Gak masalah. Itu tantangan tersendiri. Yuk! Kita hadapi, nikmati, dan lewati dengan bahagia.   
Salam Bahagia!



8 nasihat Al-Ghazali: O Beloved Son!

8 nasihat Al-Ghazali: O Beloved Son!

foto: pinterest.com

Beberapa nasihat ini diambil dari buku O Beloved Son, dengan judul asli kitab Ayyuhal Walad.  Sekilas tentang kitab ini.  Kitab Ayuhhal Walad merupakan kitab kecil yang dibuat seorang guru, sang Hujjatul islam, Imam Al-Ghazali untuk memenuhi permintaan salah satu murid kesayangannya ketika ia hendak berpamitan kepada sang guru setelah sekian lama belajar dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Saat mendatangi sang Guru ia memohon ‘fatwa’, meminta nasihat wada’ (nasihat perpisahan) secara tertulis.

Al-Ghazali mengabulkan permintaannya. Ia menulis baris-baris nasihatnya dengan begitu indah. Semua diawali dengan kalimat ‘Ayyuhal Walad’…”Wahai Anakku”…Wahai Ananda tercinta”. Sebuah frasa yang menunjukkan bagaimana kedekatan seorang guru dan murud layaknya seorang ayah dengan anaknya. Secara tidak langsung, Al-Ghazali pun mengajarkan bagaimana adab ketika memberikan nasihat. Dengan panggilan yang baik, dengan cara lembut, berharap nasihat akan lebih dapat tenang diterima. Dan tak lupa, di bagian akhir Sang guru mendoakan kebaikan untuk muridnya.
Beberapa nasihat yang ia tulis, di antaranya

1.“Wahai Anakku!
Salah satu nasihat Rasulullah Shallallahu alihi wasallam kepada umatnya ialah seperti yang disabdakan beliau,

“Tanda Allah berpaling dari seorang hamba ialah jika ia sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna baginya. Sesungguhnya seseorang yang melewatkan sesaat saja dari usianya untuk sesuatu yang tidak ia jadikan Allah untuk mengerjakannya, maka ia layak untuk sangat menyesal. Dan siapa yang telah berusia empat puluh tahun lebih, namun amal kebajikannya tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, sebaiknya ia bersiap-siap untuk ke neraka.”

Nasihat ini rasanya cukup bagi orang-orang yang berilmu.

2. Wahai Anakku!
Nasihat itu mudah, yang sulit ialah menerimanya. Sebab, bagi mereka yang suka berkubang dalam lumpur nafsu, nasihat itu terasa pahit di hati.

3. Wahai Anakku!
Selama engkau tidak beramal, tentu tak ada pahala bagimu.

4. Wahai Anakku!
Sudah berapa malam engkau lewatkan untuk begadang, demi mempelajari ilmu hingga kamu tidak sempat berisitirahat tidur? Aku tidak tahu, apa yang mendorongmu demikian. Bila itu engkau lakukan demi memperoleh kemuliaan duniawai, maka celaka dan celakalah engkau. Jika semua engkau jalani demi menghidupkan serta mengamalkan syariat nabi maka sungguh beruntunglah engkau. 

5. Wahai Anakku!
Kalau ilmu saja sudah engkau anggap cukup tanpa perlu amal, berarti percuma saja para malaikat menyeru atas perintah Allah, 
“Adakah orang yang memohon? Adakah orang yang meminta ampunan? Dan adakah orang yang bertobat?

6. Wahai Anakku!
Telah diriwayatkan bahwa Lukman al-Hakim menasihati putranya. Ia berpesan “Wahai putraku, jangan sampai seekor ayam lebih pintar daripada engkau. Yaitu, ia sudah berkokok di waktu subuh sementara engkau masih tidur nyenyak”.

7. Wahai Anakku!
 Inti dari ilmu ialah ketika kamu mengetahui apa itu makna ketaatan dan ibadah.

8. Wahai Anakku! 
Jadikan ucapan dan tindakanmu sesuai dengan tuntutan syariat. Sebab ilmu dan amal tanpa mengikuti syariat itu sesat.




Apa itu Stunting? Yuk, Cegah dengan mengoptimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda!

Apa itu Stunting? Yuk, Cegah dengan mengoptimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda!

Foto: medium.com

“Global Nutrition Report tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting dan overweight pada balita.”

Menyoroti masalah stunting, rupanya ini masih menjadi masalah utama kesehatan gizi anak di Indonesia. Sebagaimana hasil riset kesehatan dasar (Riskedas) tahun 2013 yang mencatat bahwa prevalensi stunting nasional  mencapai 37,2 %, meningkat dari tahun 2010 (35,6%), itu artinya sudah di atas standar yang ditetapkan WHO, dimana prevalensi balita pendek (stunting) menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih.

Sebenarnya apa itu stunting? Apakah sangat berbahaya?
Stunting, atau mudahnya dikenal dengan istilah ‘balita pendek’, merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Apakah hanya karena bertubuh pendek, jadi masalah? Nah, ini justru masalahnya. Kebanyakan orang tua masih abai dan tidak begitu memperhatikan pertumbuhan tinggi anak. berbeda jika sedang membicakan tentang berat badan (BB) anak. Bukan begitu? Apalagi jika merasa orang tuanya pun bertubuh pendek, rasanya itu bukan masalah. Padahal faktor genetik atau keturunan hanya berperan sedikit sekali pada masa awal-awal kehidupan. Ya, tidak selalu yang bertubuh pendek pasti stunting, tapi yang mengalami stunting dapat terdeteksi dari tubuhnya yang pendek. 

Seberapa bahayanya? bisa kita dari dampak yang bisa ditimbulkan. Apa saja?
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting digolongkan menjadi dua macam,

Jangka pendek
Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan
Gangguan pertumbuhan fisik
Gangguan metabolisme dalam tubuh 

Jangka panjang 
Menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar 
Menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit
Resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua

Menjadi fatal lagi karena efek dari semua itu bisa mempengaruhi produktivitas sumber daya manusia yang akan menurunkan daya saing bangsa. Bukankah itu mengerikan?

Lalu, bagaimana kita mengenali gejala stunting? Cek infografis berikut,

Foto: indonesiabaik.id

Sudah saatnya kita aware dengan problem kesehatan ini. Yuk, pantau pertumbuhan dan perkembangan anak dengan seksama. Apakah kita bisa cegah? Tentu saja. salah satunya adalah dengan memberikan intervensi gizi spesifik pada 1000 hari pertama kehidupan anak.

Pernah mendengar istilah 1000 hari pertama kehidupan anak (HPK)

Foto: sarihusada.co.id

1000 HPK merupakan masa awal kehidupan yang dimulai saat di dalam kandungan sampai dua tahun pertama setelah kelahiran. 1000 HPK merupakan periode emas seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Dikatakan bahwa intervensi gizi spesifik dalam masa 1000 Hari Pertama Kehidupan ini dapat mengurangi 30% gejala stunting. 

Apa yang bisa dilakukan dalam masa 1000 HPK?

Masa kehamilan
Pada masa ini, perhatian bisa difokuskan pada pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi ( zat besi atau Fe), tidak kekurangan iodium,  dan terpantau kesehatannya. Namun, faktanya kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Nah, bagi para Bumil, lebih disiplin yuk! Berikan yang terbaik untuk kehidupan dan masa depan sang buah hati.

Masa Menyusui Anak 0-6 Bulan
Usahakan untuk melakukan Inisiasi Menyusi Dini (IMD) dan pemberian ASI Eksklusif (selama 6 bulan)

Masa Menyusui Anak 7-24 Bulan
Pemberian MP-ASI berkualitas di atas usia 6 bulan hingga 23 bulan, imunisasi lengkap, pemantauan pertumbuhan anak di posyandu, pencegahan dan pengobatan diare dan malaria.

Foto: indonesiabaik.id

Selain pemberian nutrisi terbaik, pola hidup bersih dan fasilitas sanitasi yang baik juga merupakan bagian dari upaya pencegahan stunting. Sanitasi dan kebersihan akan berpengaruh pada pertumbuhan anak yang sempurna. Ibu hamil dan anak perlu hidup dalam kondisi lingkungan yang bersih. Dua hal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk memutus rantai sanitasi yang buruk adalah dengan tidak buang air besar sembarangan dan mencuci tangan dengan sabun.

Waspada Stunting!
Optimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda demi Masa Depan Keluarga dan Bangsa. 

Referensi:

Buku Saku Stunting Desa, diakses di http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Buku_Saku_Stunting_Desa.pdf

https://www.mca-indonesia.go.id/assets/uploads/media/pdf/MCAIndonesia-Technical-Brief-Stunting-ID.pdf




Jadi IRT tanpa ART? Siapa Takut!