[Cerita Anak] Andai Kamu Tahu, Ola!


Cerita oleh Mira Humaira

Namanya Ola. Seekor anak koala yang aktif dan lincah. Ia senang bermain, melompat-lompat di pepohonan, bahkan sedang berjalan pun dia biasa sambil berjingkrak-jingkrak. Gak bisa diem!

Ola memang periang tapi juga cerewet. Saat bicara ia kadang seenaknya. Ola sering mengejek yang lain sambil tertawa terbahak-bahak.Tidak jarang, ia membuat teman-temannya tak nyaman. 

Pada suatu hari, Ola sedang berjalan menyusuri hutan buah. Ia baru saja pulang dari rumah Paman Koko. Di tengah perjalanan, Ola bertemu dengan Mon-mon, seekor monyet dengan ekor yang panjang. Mon-Mon tampak menggantung dan meloncat dari dahan pohon satu ke yang lainnya, seperti sedang atraksi. Mon-mon memang dikenal seekor monyet yang terampil.

Namun, tiba-tiba...
Krek! Brug! Bam! 
Terdengar suara patahan dahan pohon.

Ola yang sedang memperhatikannya langsung menghampiri. Alih-alih membantu Ola malah menertawakannya.

“Hahaha… katanya paling terampil dan keren di hutan ini, lah kamu bisa teledor dan jatuh juga, Mon?Hahaha… payah!”

Mon-mon tampak kesal tapi ia tidak punya waktu meladeni Ola. Saat itu Mon-mon sedang terburu-buru. Mon-mon segera membereskan buah-buah yang terserak dan memasukkan kembali ke kain buntelannya. Mon-mon pun memutuskan untuk berjalan saja, tidak lagi menggelantung lewat pepohonan, khawatir barang bawaannya jatuh dan berantakan lagi.

Untuk sampai ke rumahnya, Ola juga harus menyebrangi sungai. Sekalian beristirahat, ia duduk-duduk di bebatuan pinggir sungai. Setelah meneguk air minum dari tumblr-nya, Ola melihat beberapa ikan yang muncul ke permukaan air. Mereka terlihat kewalahan. Mulut ikan-ikan itu terbuka dan tertutup dengan cepat. Lalu tiba-tiba saja Ola berkata, “Hai ikan-ikan...kalian aneh. Tempat kalian di air, tapi untuk berenang saja kalian seperti kesulitan. Aku perhatikan kalian tidak menyelam ke dalam sungai. Hahaha kalian payah!” seru Ola mengejek lagi. Ia langsung berdiri kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

Frogy, seekor katak hijau bermulut merah, geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ola. “Hmm… Andai kamu tahu, Ola!” gumam Frogy.

Lalala...lalala…
Dubidam..dam...dam..
Dubidubidaaam…
Aku Ola, si koala periang
Siapa pun pasti senang
Dengan koala periang.

Ola menikmati hari yang sudah mulai sore dengan bernyayi-nyanyi sambil menggerak-gerakkan tangannya. Sampai akhirnya ia menyudahinya karena mendengar suara burung-burung yang saling bersahutan, sedikit berisik. Dilihatnya Raka, seekor anak burung rangkong yang terbang tidak jauh darinya. 

“Hai, Raka. kalian berisik sekali,” teriak Ola dari bawah pohon ketapang.

“Maaf, aku sedang panik!” seru Raka. Ia tempak terbang tak tentu arah. Matanya tidak fokus. Bahkan kepakan sayapnya pun tak berarturan.

“Kamu seperti ketakutan, kamu kan burung rangkong yang terkenal gagah. Sekarang, kamu terlihat payah!” lagi-lagi Ola berbicara seenaknya.

Boom!!!
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. 
Hah, itu petir? kata Ola dalam hati, Oh tidak, … atau suara senapan, ia bertanya-tanya.

Ola yang mulai merasakan ketakutan saat itu mendongak ke atas melihat Raka yang sudah terbang menjauh diikuti kawanan burung rangkong lainnya.

“Oh tidak. Pemburu!” Ola berteriak, tanpa berpikir lama ia langsung berlari ketakutan.
Ola memanjat pohon, menggelantung, berlari lagi, melompat dengan sigap. Ia berusaha tidak bertemu dengan satu dua atau banyak manusia yang menyeramkan. Tapi akhirnya,
Bug!
Ola terjatuh, tubuhnya menggelinding.
Brak!
Kepala Ola terbentur patahan batang kayu yang keras.
***

“Papa…!”
Ola tersadar. Ia langsung mencari Papa. namun, tangan Mama yang menggapainya. Satu tangan membelai kepala Ola, satunya memberi tanda untuk menutup mulut.

Mata Ola terbelalak. Ia sadar saat itu suasana sedang mencekam.
“Kita harus segera pergi dari sini, Ola!”
“Keni, kau harus bersiap juga,” perintah Mama pada kakak Ola.
“Papa?”
Mama hanya menggelengkan kepala dan menahan sesak. “Tidak ada waktu untuk menangis sekarang, Ola. kita pergi!”

Ola tidak percaya. Ia ingin berteriak. “Papa”, Ola hanya bisa memanggil Papa pelan dengan suara lirih. Ola menahan air matanya saat berlari bersama Mama dan Keni. Suasana semakin membingungkan saat ia melihat teman-teman binatang lainnya pun sedang berlarian. Ada yang jatuh, terjerembab, menabrak pepohonan, terguling, dan tertinggal dari keluarganya sendiri. 

Ola meringis. Kali ini ia tidak bisa tertawa. Tidak ada kesempatan untuk mengejek. Ola pun kini semakin ketakutan. 

Frogy melihat Ola dari kejauhan.
“Andai kamu tahu, Ola”
Saat kau bertemu Mon-mon. Ia sedang panik karena adiknya sakit dan tidak bisa mendapatkan makanan karena hutan tempat tinggalnya habis terbakar oleh para-para penguasa. Mon-mon terburu-buru mencari dan membawa makanan untuk adiknya agar bisa bertahan hidup.

“Andai kamu tahu, Ola”
Ikan-ikan yang kau temui kemarin. Mereka sedang mempertahankan nafas hidupnya. Mereka sedang sekarat kehabisan oksigen karena air sungai hampir sepenuhnya tercemari limbah yang dibuang manusia tanpa merasa berdosa.

“Andai kamu tahu, Ola”
Tadi Raka sedang ketakutan karena ayahnya baru saja kehilangan paruh tanduk istimewanya gara-gara manusia-manusia serakah yang melakukannya demi uang. Mereka membuat keluarga Buceros menderita. Mereka akan terus mengejar. Sungguh, semua itu sangat menakutkan.

***

We need, in a special way, to work twice as hard to help people understand that the animals are fellow creatures, that we must protect them and love them as we love ourselves.
-Cesar Chavez-



[Cerita Anak] Paman Ding-Dong dan Sup Manis


Paman Ding-Dong dan Sup Manis
Oleh Mira Humaira

“Cici… tolong antarkan sup wortel ini ke rumah paman sebelah, ya!” seru Mama dari dapur.

Aku menghampiri Mama sambil menghirup aroma lezat wortel dari sebuah panci. Mama menyodorkan sebuah mangkuk bertutup kaca bening. Terlihat tetes-tetes uap dari atas. Sup wortel buatan Mama memang menggoda.

Tok tok tok…
“Permisi…!”
“Permisi, Paman!”
Aku mengetuk pintu barkali-kali. Kemudian terlihat kepala beruang menyembul dari balik pintu.

“Selamat pagi, Paman Beruang. Ini sup dari Mama,” Aku menyerahkan mangkuk sup sambil tersenyum.

Bruk!
Pintu kayu itu tertutup begitu saja sesaat setelah paman itu mengambil mangkuk dari tanganku.

Beruang aneh!
Aku menggerutu dalam hati. Aku pun langsung kembali dan saat itu Mama sudah tidak ada di rumah. Mama pasti sudah berangkat ke pasar.

Ding… dong… ding… dong!
Suara bel berbunyi.
Mama sudah pulang?
Aku segera membuka pintu.

Ups, ternyata paman beruang hitam yang berdiri tegak di balik pintu. Badannya besar sekali. Aku harus mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. Tubuhnya juga tinggi, bahkan saat telingaku berdiri pun, tidak sampai setinggi dadanya.

“Ini!” Paman beruang itu menyodorkan mangkuk tadi.
“Hah?!” Aku tidak mengerti. Ia mengembalikannya dengan mangkuk yang masih terisi penuh.
“Aku tidak suka sup manis!” kata Paman beruang dengan lantang. Ia langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.

Beruang aneh!
Aku menggelengkan kepala sambil menatap Paman beruang itu pergi.

Mama pulang.
“Ma, Paman sebelah itu mengembalikan supnya. Katanya ia tidak suka sup manis,” laporku pada Mama.

“Manis?” tanya Mama sedikit kaget.
Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu.

Esok hari.
“Cici… Sup untuk paman sebelah sudah Mama siapkan, ya. Mama pergi dulu ke pasar. Jangan lupa antarkan, ya!” teriak Mama terburu-buru.

“Siap, Mamaaaa!”
Aku ambil mangkuk yang sudah disiapkan Mama, yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini isinya sup jagung ayam. Aku bisa membayangkan lezat dan gurihnya sup ini.

Dan… Kejadian yang sama. Paman beruang itu menutup pintunya tanpa berkata-kata setelah mengambil supnya.

Ding… dong… ding... dong...!
Mama?

Oh, tidak. Paman beruang lagi.

“Aku tidak suka sup manis!”
Lagi-lagi, paman beruang itu datang mengembalikan mangkuk sup yang masih terlihat utuh.

Kali ini aku penasaran. Aku mengambil sendok dan menyuapkan sup jagung ayam ke mulutku.

Beruang aneh!
Aku sudah biasa menyantap sup jagung ayam buatan Mama. Kali ini pun rasanya sama. Asin dan gurih. Manis dari mana?!

Esok hari lagi.
“Cici, itu supnya…,” ucap Mama sambil menutup pintu rumah.

“Ya… ya… ya,” Aku langsung menuju dapur mengambil mangkuk itu.

Dan… untuk ketiga kalinya. Kejadiannya terulang seperti hari-hari kemarin. Paman itu memencet bel, memasang muka dingin, menyodorkan mangkuk, dan bilang, “aku tidak suka sup manis!”

Aku penasaran sup apa yang dimasak Mama hari ini untuknya.
“Hmm, ini sup iga!” sesaat aku tergoda dengan wangi bawang yang menyeruak dari dalam mangkuk. Tanpa menyicipnya, aku tahu pasti kalau sup ini tidak mungkin manis.

Beruang aneh!

Hari keempat.
Mama menyiapkan lagi sup untuk paman sebelah yang sampai sekarang kami tidak tahu namanya.
Kali ini, Mama membuat lagi sup wortel keju. Sup wortel keju adalah masakan favorit kami, keluarga kelinci. Jadi, aku tahu pasti rasa sup itu asin bukan manis.

Aku tidak bosan untuk melempar senyum dari balik pintu paman beruang saat memberikan semangkuk sup untuknya. Walaupun biasanya ia akan selalu membanting pintu.

Tapi ada yang aneh hari ini. Paman beruang itu menutup pintu dengan pelan. Ajaibnya lagi, ia bisa bilang, “Terima kasih, Cici!”. Kejutan, ia juga tahu namaku.

Diam-diam aku juga penasaran dengan paman beruang itu. Tanpa ragu, aku memata-matai dari balik jendela samping.
Oh itu dia.
Aku bisa melihatnya sedang menyimpan mangkuk di atas meja. Mukanya berseri-seri. Paman beruang tampak senang  dan bersemangat ingin menyantap supnya.

Aku terus memperhatikannya. Aku lihat paman beruang mencari sesuatu. Ya, dia mencari sendok. Tapi, ups, aku melihat sendok itu ia raih dari toples madu. Sendoknya masih berlumur madu yang lengket. Ia langsung memasukkannya ke dalam mangkuk, mengambil kuahnya, dan hap! ia menyuapkan ke dalam mulutnya.

Oow! Itu dia masalahnya.

Seketika wajah Paman beruang itu tampak bersedih. Ia meninggalkan supnya.

Aku kembali ke rumah dan bersiap-siap membuka pintu kembali. Pasti paman beruang akan segera datang.

Ding… dong… ding… dong!
***

Keesokan harinya (lagi).
Di hari ke lima ini Mama membuat sup kentang keju.
“Cici…”
Sebelum Mama meneruskan kalimatnya, aku sudah tiba di hadapannya.

“Sup untuk paman sebelah? Aku siap mengantarnya!” tuturku bersemangat. “Dan ini juga, kita melupakan ini dari kemarin,” tambahku sambil mengacungkan sendok ke depan Mama.

Mama sepertinya belum mengerti. Aku juga tidak menjelaskannya karena aku harus bergegas mengantarkan sup dan Mama pun akan segera ke pasar.

“Selamat pagi, Paman. Ini supnya!” ucapku sambil menyapa. “Dan ini, ini sendok untuk memakannya, Paman!”

Paman beruang itu tersenyum dan kembali masuk.

Aku mengintipnya. Aku memandanginya lekat. Ternyata wajah paman itu tidak terlihat menyeramkan. Apalagi saat matanya berbinar-binar memandangi sup di depannya. 

Satu... dua... tiga suap sup kentang itu memanjakan lidahnya. Tidak perlu waktu lama, Paman beruang melahapnya singkat. Ia kelihatan puas dan senang.

Aku pun. Aku ikut tersenyum melihat Paman beruang itu akhirnya bisa menikmati sup buatan Mama.

Aku kembali ke rumah dengan lega kali ini. Pasti tidak akan ada lagi yang memencet bel lalu bermuka judes menyerahkan mangkuk sup.

Ding… dong… ding… dong!
Siapa lagi?
Oow! Paman beruang!

“Terima kasih, Cici” Paman beruang itu tersenyum sambil menyerahkan mangkuk kosong.
***

“Cici, apa hari ini paman sebelah masih protes?” tanya Mama sepulang dari pasar
“Tidak. Sup buatan Mama habis dilahapnya,” Aku mengerlingkan mata. Mama pun tersenyum.

Ternyata... masalahnya bukan karena sup Mama yang rasanya aneh atau lidah Paman beruang yang tidak normal. Itu karena Paman beruang hanya punya satu sendok di rumahnya. Sendok itu selalu berada di dalam toples madunya. 

Paman beruang sudah cukup tua. Ia tinggal sendiri setelah pindah ke rumah itu baru-baru kemarin.  Tetangga sebelah bilang, istri yang setia menemaninya baru saja meninggal. Makanya, Mama selalu membuatkan sup untuk Paman beruang karena  tidak ada lagi yang biasa memasakkan makanan untuknya di rumah. 

Sejak aku memberikan sendok itu,  aku mulai suka bermain di rumah Paman beruang untuk menemaninya. Dia bukan beruang yang menakutkan. Paman beruang itu baik. Sekarang, kami berteman baik. Aku suka memanggilnya, Paman Ding Dong! Hihihi

Cerita lainnya: BILA, Bintang Baca Buku

#LatihanMenulis
#30HariBerceritaAnak















[Cerita Anak] Bila, Bintang Baca Buku



Basa-basi dulu nih!

Hiyaap! 
Postingan cerita anak pertama di tahun baru nih. Jadi ceritanya, mulai menantang kembali diri sendiri untuk bisa latihan menulis cerita anak setiap hari. Untuk idenya, kali ini aku udah tulis sebanyak 30 karakter tokoh dan 30 kata sifat atau kata kerja. Setiap harinya, aku akan mengundi kata-kata tersebut. Mana yang keluar, itu yang akan jadi tema untuk cerita anak pada hari tersebut. Nah, untuk hari pertama ini dua kata undian yang keluar adalah 'Bintang Laut' dan 'Membaca'
So, siap langsung eksekusi deh ceritanya.

BILA, Bintang Baca Buku
Oleh Mira Humaira

Semua anak-anak penghuni laut dalam Wakatobi suka baca buku. 
Ada Encum, si cumi-cumi yang hobi baca buku antariksa.
Ada Kara, kerang laut yang pendiam tapi hobi baca buku komedi.
Ada Kudit, kuda laut yang asyik kalau sudah baca buku tentang olah raga.
Ada Moi, panggilan akrab Anemon, yang suka buku-buku dongeng.
Juga lainnya. Hampir semuanya yang kutemui di sana senang membaca. Mereka masing-masing membawa buku kesukaannya ke mana pun mereka pergi.

Tapi…
Aku melihat hanya satu yang tak pernah membawa buku. Dia Bila, bintang laut merah yang sukanya menari.

“Kamu cuma bisa sibuk menari, ya, Bila?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak pernah melihatmu membawa buku dan membaca,” ucapku berani.
“Atau kamu memang tidak suka baca, ya, lihat seperti yang lainnya?” 

Bila terdiam. Tidak lama terdengar suara Bila terisak-isak.

“Asal kamu tahu, Kori. Aku sangat suka sekali membaca,” Bila memandangku tajam walau ada air mata di sudut matanya.

“Aku tidak pernah melihatnya,” jawabku memandang balik matanya. 

Tapi tiba-tiba Bila berlalu begitu saja tanpa menanggapi perkataanku.
***
Tidak lama kemudian, aku berjumpa dengan teman-temanku.

“Hai, Encum, Kudit, Kara, Moi…”
Aku menyapa mereka yang sedang berjalan bersama. Mereka adalah teman-teman yang pertama kali aku kenal di sini sejak kepindahanku dua pekan lalu.

“Kori, apa kamu tadi membuat Bila marah?” mereka kompak bertanya padaku.

“Oh, apa dia benar-benar marah? Aku hanya bertanya kenapa dia tidak pernah membawa buku seperti kalian”

Encum, Kudit, Kara dan Moi tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya. Mereka tampak kecewa.

“Ssst… jangan membuatnya sedih,” tukas Moi.

“Kamu tahu, Kori? Bila adalah juaranya baca buku di sini, Bila terkenal paling rajin,” sambung Kara.

Aku tidak percaya.

“... Iya, tapi itu sebelum kejadian mengerikan menimpa taman bawah laut, ” tambah Kudit.

“Apa yang terjadi?” Aku penasaran.

“Sebuah kapal besar menghantam taman dasar laut kami. Bila ada di sana saat itu,” jawab Kara dengan nada sedih.

“Kejadian itu membuat mata Bila rusak. Malah, hampir saja ia kehilangan kedua matanya,” cerita Kudit.

“Ia tak bisa lagi membaca,” Encum berkata sedih.

“Padahal itu adalah kesenangannya,” lanjut Moi mengingat masa-masa sebelum itu.

“Oh , Bila!” Aku mulai merasa bersalah.

“Sejak saat itu, Bila menyibukkan dirinya dengan berlatih menari,” ujar Kara.

“Eh tapi... Bila tetap bisa membaca bukunya,” seru Kudit membuat suasana kembali ceria.

"Hah?!" Lagi-lagi aku penasaran.

“Iya, kau lihat, Kori, Bila selalu menggunakan headset, bukan?” tanya Encum meyakinkanku.

Aku mengangguk. “Dia suka mendengarkan musik juga?” Aku bertanya masih belum paham.

“Tidak, ia sedang mendengarkan suara ibunya. Ibunya membacakan buku untuknya setiap hari lewat rekaman,” jawab Encum.

“Bila memang tidak bisa jauh dari buku,” Kara tersenyum.

“Bagi kami, Bila tetap bintangnya kalau urusan baca buku sekalipun ia tidak membacanya sendiri,” kata Moi bangga.

“Aku salut pada Bila,” mata Kara berbinar.

“Kamu sendiri bagaimana, Kori? Sejak kamu tinggal di sini kamu juga jarang terlihat membaca,” tanya Kudit mulai membuatku salah tingkah. Perkataan Kudit memang tidak salah. 

“Ayo, Kori. Selagi matamu masih sehat, ayo baca buku. Sayang loh, kalau cuma dipakai main game saja, hihihi...” Kara tertawa kecil dan jelas membuatku malu. Rasanya aku mau langsung bersembunyi di balik tempurungku.

Hehehe kalian… Iya iya aku malu sama Bila,” Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali. 

Aku malu tapi saat itu juga aku jadi bersemangat. Aku juga mau lebih rajin membaca buku. Tapi sebelum itu, aku akan meminta maaf pada Bila terlebih dahulu. 

#LatihanMenulis
#30HariBerceritaAnak




[Cerita Anak] Andai Kamu Tahu, Ola!