Jadi IRT tanpa ART? Siapa Takut!


Pict: kanal.co


“Nanti gimana di Rantau, gak ada sodara… gak ada keluarga. Cari ART aja, ya!”
“Repot loh sama duo krucil yang masih pada suka ngintil, nanti kalau ada apa-apa gimana? Kan suami kerja!”
“Dibantu sama ART aja, biar semua aman terkendali. Gak terlalu cape dan bisa istirahat!”

Ya...ya...ya, begitulah kira-kira kesan dan pesan pertama saat orang tua dan keluarga dekatku pada heboh ketika tau aku fix memutuskan untuk ikut merantau lagi ke suatu desa kecil di pulau Borneo, Kalsel. Begitu perhatiannya, bukan? Hihi. Tau kali ya, rempongnya diriku sebagai emak dua anak, yang satu masih balita, satunya lagi masih bayi yang baru banget bisa jalan. 

Jujur aja sih, awalnya sempat masuk ke alam bawah sadar tuh saran dan perhatiannya para orang tua itu. Sampai-sampai saat itu juga tiba-tiba nge-WA suami dan basa-basi mau dicariin ART. Saat itu, posisinya suami sudah menetap di Kalimantan. Aku yang tiba-tiba, ngechat, “duh hari ini super hectic, tadi kejadian gini loh….gitu loh…, untung aja ada mamah yang bantuin, kalau gak, wow deh!”. Haha prolog menuju rayuan. Berapa detik kemudian, aku pun menambahkan, “hmm… kayaknya nanti butuh temen deh, mudah-mudahan Bi Ijah ada, ya!”. Ini emak-emak banget ya bahasanya #apaakuajah. Kenapa gak to the point aja. :D Tapi beruntungnya punya suami yang sangat pengertian walaupun chat berbalas lama tapi jawabannya melegakan, "Oke! Itu gampang aja". Ini maksudnya di Acc kan, ya. #emaklega

Saat tiba di perantauan.
Napas panjang… fiyuuh hari-hari akan berubah tidak seperti biasanya. Kami hanya tinggal berempat di sebuah rumah kontrakan. Cuma bertiga di siang hari, Bunda, anak ganteng, dan anak cantik. Gak ada saudara, mamah, atau bapak yang bisa dititipin anak saat emaknya harus menyelesaikan 1001 pekerjaan domestik yang gak ada habisnya. 

Mengerikan? Sekilas tampaknya begitu. Tapi faktanya, saat suami yang baik hati itu kembali menawarkan, “Mau hubungi Bi Ijah untuk bantu-bantu?”. Jawabanku, “Gak usah,” sambil senyum-senyum. Tapi beneran jawaban ikhlas, loh, bukan semata-mata jaim, hanya ingin terlihat sok tangguh, gitu? Enggak. Jujur aku sungguh menikmatinya dan ternyata aku juga jadi tahu bahwa aku bisa lebih mandiri. #ehm

Nah, apa karena menikmatinya otomatis tidak capek? Ya tetap capek. Secara fisik tubuh terus bekerja. Masing-masing anggota badan memainkan peran menunaikan tugas-tugasnya, mengeluarkan energi, malah kadang diporsir, ya pasti ada titik lelahnya.

Beraktivitas sehari-hari dengan dua anak tanpa ART, jelas sangat menantang. Dimana segala pekerjaan harus bisa selesai di tangan sendiri, dengan kondisi harus tetap aman terkendali.

Ya, faktanya:
"Banyak pekerjaan yang harus tuntas tapi waktu terbatas
Harus tetap ceria walau banyak tingkah anak yang menggoda
Harus tetap cantik dan sehat tapi nyatanya seharian berkeringat"
Jadi, bagaimana trik menghadapi tantangan tersebut?
Kita coba praktekkan bareng-bareng, yuk!


  • DISIPLIN



Kunci mengatasi keluhan tantangan nomor 1. Kalau sudah tercatat di to-do list hari ini harus ngerjain tumpukan strikaan, maka harus dilaksanakan! Jangan tergoda dengan hal lain yang bisa membuang waktu. Kerjakan tanpa harus dipikirkan. (ini pesen suami kalau doi udah liat tanda-tanda ngeluh muncul di mulut istrinya, :D).


  • Bangun, mandi, dan sarapan LEBIH PAGI



Ini tips untuk membangun mood lebih jernih saat mengawali hari. Dengan kondisi fisik dan mental yang segar, kita sudah lebih siap menghadapi godaan-godaan dan tantangan di depan mata. Mungkin anak-anak rewel dan ngeyel saat diajak mandi pagi, susah makan saat sarapan malah mau nyamil ciki? cucian yang ternyata seabreg? Kita bisa atasi dengan kondisi yang relatif tenang karena mood kita sedang baik. Beda kan rasanya, saat anak-anak mulai menggoda sedangkan kondisi kita masih gak mood, berantakan, dan lapar? 


  • Sempatkan Me Time!



Mana ada waktu? Ada. Alokasikan, sempatkan! Ini penting untuk menjaga kewarasan dan kestabilan emosi dan fisik kita. Cukup lah ya 10-15 menit untuk baringan pakai eye masker. Atau ngopi sehat di pagi hari sebelum mulai beraktivitas? Baca buku ditemani jus lemon dingin saat sore hari sebelum suami pulang kerja? Bisa. Pasti bisa. Memang, bisa saja kita memutuskan 15 menit berharga itu untuk beres-beres hal lain. Tapi ingat loh, kondisi kebahagiaan kita juga perlu dirapiin. Hihi. So, itu pilihan Anda! 


Jadi, jadi, jadi….
Bekerja di rumah tanpa ART? Gak masalah. Itu tantangan tersendiri. Yuk! Kita hadapi, nikmati, dan lewati dengan bahagia.   
Salam Bahagia!



8 nasihat Al-Ghazali: O Beloved Son!

8 nasihat Al-Ghazali: O Beloved Son!

foto: pinterest.com

Beberapa nasihat ini diambil dari buku O Beloved Son, dengan judul asli kitab Ayyuhal Walad.  Sekilas tentang kitab ini.  Kitab Ayuhhal Walad merupakan kitab kecil yang dibuat seorang guru, sang Hujjatul islam, Imam Al-Ghazali untuk memenuhi permintaan salah satu murid kesayangannya ketika ia hendak berpamitan kepada sang guru setelah sekian lama belajar dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Saat mendatangi sang Guru ia memohon ‘fatwa’, meminta nasihat wada’ (nasihat perpisahan) secara tertulis.

Al-Ghazali mengabulkan permintaannya. Ia menulis baris-baris nasihatnya dengan begitu indah. Semua diawali dengan kalimat ‘Ayyuhal Walad’…”Wahai Anakku”…Wahai Ananda tercinta”. Sebuah frasa yang menunjukkan bagaimana kedekatan seorang guru dan murud layaknya seorang ayah dengan anaknya. Secara tidak langsung, Al-Ghazali pun mengajarkan bagaimana adab ketika memberikan nasihat. Dengan panggilan yang baik, dengan cara lembut, berharap nasihat akan lebih dapat tenang diterima. Dan tak lupa, di bagian akhir Sang guru mendoakan kebaikan untuk muridnya.
Beberapa nasihat yang ia tulis, di antaranya

1.“Wahai Anakku!
Salah satu nasihat Rasulullah Shallallahu alihi wasallam kepada umatnya ialah seperti yang disabdakan beliau,

“Tanda Allah berpaling dari seorang hamba ialah jika ia sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna baginya. Sesungguhnya seseorang yang melewatkan sesaat saja dari usianya untuk sesuatu yang tidak ia jadikan Allah untuk mengerjakannya, maka ia layak untuk sangat menyesal. Dan siapa yang telah berusia empat puluh tahun lebih, namun amal kebajikannya tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, sebaiknya ia bersiap-siap untuk ke neraka.”

Nasihat ini rasanya cukup bagi orang-orang yang berilmu.

2. Wahai Anakku!
Nasihat itu mudah, yang sulit ialah menerimanya. Sebab, bagi mereka yang suka berkubang dalam lumpur nafsu, nasihat itu terasa pahit di hati.

3. Wahai Anakku!
Selama engkau tidak beramal, tentu tak ada pahala bagimu.

4. Wahai Anakku!
Sudah berapa malam engkau lewatkan untuk begadang, demi mempelajari ilmu hingga kamu tidak sempat berisitirahat tidur? Aku tidak tahu, apa yang mendorongmu demikian. Bila itu engkau lakukan demi memperoleh kemuliaan duniawai, maka celaka dan celakalah engkau. Jika semua engkau jalani demi menghidupkan serta mengamalkan syariat nabi maka sungguh beruntunglah engkau. 

5. Wahai Anakku!
Kalau ilmu saja sudah engkau anggap cukup tanpa perlu amal, berarti percuma saja para malaikat menyeru atas perintah Allah, 
“Adakah orang yang memohon? Adakah orang yang meminta ampunan? Dan adakah orang yang bertobat?

6. Wahai Anakku!
Telah diriwayatkan bahwa Lukman al-Hakim menasihati putranya. Ia berpesan “Wahai putraku, jangan sampai seekor ayam lebih pintar daripada engkau. Yaitu, ia sudah berkokok di waktu subuh sementara engkau masih tidur nyenyak”.

7. Wahai Anakku!
 Inti dari ilmu ialah ketika kamu mengetahui apa itu makna ketaatan dan ibadah.

8. Wahai Anakku! 
Jadikan ucapan dan tindakanmu sesuai dengan tuntutan syariat. Sebab ilmu dan amal tanpa mengikuti syariat itu sesat.




Apa itu Stunting? Yuk, Cegah dengan mengoptimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda!

Apa itu Stunting? Yuk, Cegah dengan mengoptimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda!

Foto: medium.com

“Global Nutrition Report tahun 2014 menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting dan overweight pada balita.”

Menyoroti masalah stunting, rupanya ini masih menjadi masalah utama kesehatan gizi anak di Indonesia. Sebagaimana hasil riset kesehatan dasar (Riskedas) tahun 2013 yang mencatat bahwa prevalensi stunting nasional  mencapai 37,2 %, meningkat dari tahun 2010 (35,6%), itu artinya sudah di atas standar yang ditetapkan WHO, dimana prevalensi balita pendek (stunting) menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih.

Sebenarnya apa itu stunting? Apakah sangat berbahaya?
Stunting, atau mudahnya dikenal dengan istilah ‘balita pendek’, merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Apakah hanya karena bertubuh pendek, jadi masalah? Nah, ini justru masalahnya. Kebanyakan orang tua masih abai dan tidak begitu memperhatikan pertumbuhan tinggi anak. berbeda jika sedang membicakan tentang berat badan (BB) anak. Bukan begitu? Apalagi jika merasa orang tuanya pun bertubuh pendek, rasanya itu bukan masalah. Padahal faktor genetik atau keturunan hanya berperan sedikit sekali pada masa awal-awal kehidupan. Ya, tidak selalu yang bertubuh pendek pasti stunting, tapi yang mengalami stunting dapat terdeteksi dari tubuhnya yang pendek. 

Seberapa bahayanya? bisa kita dari dampak yang bisa ditimbulkan. Apa saja?
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting digolongkan menjadi dua macam,

Jangka pendek
Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan
Gangguan pertumbuhan fisik
Gangguan metabolisme dalam tubuh 

Jangka panjang 
Menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar 
Menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit
Resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua

Menjadi fatal lagi karena efek dari semua itu bisa mempengaruhi produktivitas sumber daya manusia yang akan menurunkan daya saing bangsa. Bukankah itu mengerikan?

Lalu, bagaimana kita mengenali gejala stunting? Cek infografis berikut,

Foto: indonesiabaik.id

Sudah saatnya kita aware dengan problem kesehatan ini. Yuk, pantau pertumbuhan dan perkembangan anak dengan seksama. Apakah kita bisa cegah? Tentu saja. salah satunya adalah dengan memberikan intervensi gizi spesifik pada 1000 hari pertama kehidupan anak.

Pernah mendengar istilah 1000 hari pertama kehidupan anak (HPK)

Foto: sarihusada.co.id

1000 HPK merupakan masa awal kehidupan yang dimulai saat di dalam kandungan sampai dua tahun pertama setelah kelahiran. 1000 HPK merupakan periode emas seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Dikatakan bahwa intervensi gizi spesifik dalam masa 1000 Hari Pertama Kehidupan ini dapat mengurangi 30% gejala stunting. 

Apa yang bisa dilakukan dalam masa 1000 HPK?

Masa kehamilan
Pada masa ini, perhatian bisa difokuskan pada pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi ( zat besi atau Fe), tidak kekurangan iodium,  dan terpantau kesehatannya. Namun, faktanya kepatuhan ibu hamil untuk meminum tablet tambah darah hanya 33%. Nah, bagi para Bumil, lebih disiplin yuk! Berikan yang terbaik untuk kehidupan dan masa depan sang buah hati.

Masa Menyusui Anak 0-6 Bulan
Usahakan untuk melakukan Inisiasi Menyusi Dini (IMD) dan pemberian ASI Eksklusif (selama 6 bulan)

Masa Menyusui Anak 7-24 Bulan
Pemberian MP-ASI berkualitas di atas usia 6 bulan hingga 23 bulan, imunisasi lengkap, pemantauan pertumbuhan anak di posyandu, pencegahan dan pengobatan diare dan malaria.

Foto: indonesiabaik.id

Selain pemberian nutrisi terbaik, pola hidup bersih dan fasilitas sanitasi yang baik juga merupakan bagian dari upaya pencegahan stunting. Sanitasi dan kebersihan akan berpengaruh pada pertumbuhan anak yang sempurna. Ibu hamil dan anak perlu hidup dalam kondisi lingkungan yang bersih. Dua hal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk memutus rantai sanitasi yang buruk adalah dengan tidak buang air besar sembarangan dan mencuci tangan dengan sabun.

Waspada Stunting!
Optimalkan 1000 Hari Pertama Kehidupan Ananda demi Masa Depan Keluarga dan Bangsa. 

Referensi:

Buku Saku Stunting Desa, diakses di http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Buku_Saku_Stunting_Desa.pdf

https://www.mca-indonesia.go.id/assets/uploads/media/pdf/MCAIndonesia-Technical-Brief-Stunting-ID.pdf




[Cerita Anak] Terbang di Empat Musim



Hai, namaku Vanessa. Aku adalah kupu-kupu yang sejak kecil sering Mama sebut si ‘kecil-kecil cabe rawit’. Hmm... kenapa tidak sebut saja aku ‘si kecil-kecil syantik’, ya. Aku kan memiliki sayap transparan yang unik dan cantik. Lihat, sayap-sayapku berwarna bening kuning emas . Cantik, bukan?

Mama bilang seperti tadi katanya bukan tanpa alasan. Menurut Mama, itu karena aku adalah kupu-kupu jagoan yang selalu berani. Walau badanku kecil tapi aku hebat untuk terbang berpetualang. Seperti yang kulakukan di sepanjang tahun ini. Aku berani menerima tantangan Mama.

Semua bermula saat aku melihat sebuah gambar yang terbang terbawa angin ke arahku. Aku bertanya pada Mama tentang gambar itu.


Mama bilang, untuk tahu jawabannya aku harus ikut terbang jauh. Tentu saja aku mau. Aku berani. “Aku adalah Vanessa cardui si painted lady, kupu-kupu yang memiliki kemampuan terbang jauh!” teriakku pada Mama. Aku percaya diri.
***
Petualanganku dimulai di Negeri Tirai Bambu, Cina. Mama mengajakku bermain di suatu taman dengan banyak pohon indah di dalamnya. Aku senang sekali bermain-main di sana. Aku terbang meliuk-liuk di antara pepohonan dengan daun-daun yang mulai berguguran. Suasananya bernuansa jingga. Pemandangan yang indah.

Mama bilang saat itu adalah sedang musim gugur. Dedaunan sedang berganti warna, mereka sedang siap-siap menyambut musim dingin yang akan datang.



Musim gugur adalah musim istimewa. Aku juga bisa ikut menikmati festival musim gugur yang biasa dirayakan warga Tiongkok (Cina). Pada perayaan ini, tradisi khas mereka adalah memakan kue bulan. Kata Mama, Keluarga-keluarga di Tiongkok biasanya akan berkumpul menikmati makan malam sambil memandangi bulan purnama pada malam festival musim gugur.
***

Perjalanan berikutnya, aku harus bersiap-siap melewati musim dingin. Aku dan Mama menghabiskan waktu ini di Negeri Ginseng, Korea Selatan. Apa yang seru saat menikmati musim dingin? Di sini aku bisa bertemu salju di mana-mana. Aku juga melihat anak-anak dengan serunya membuat boneka salju. Bermain-main dengan salju terlihat sangat menyenangkan. Tapi sayangnya, aku tak bisa lama-lama bermain. Mama bilang, kupu-kupu tidak akan kuat terbang lama jika kedinginan.


 ***

Berikutnya, Mama mengajakku terbang ke Jepang. Negeri ini dikenal juga dengan julukan Negeri Matahari. Aku berkunjung ke sini saat di antara musim dingin dan panas. Namanya, musim semi. Disini, akhirnya aku bisa melihat sakura dan bunga-bunga cantik bermekaran. Walaupun di awal musim semi cuaca masih cukup dingin. Akan tetapi, masuk pertengahan musim langit mulai cerah, bersih, dan cukup hangat. Aku bisa terbang lebih bebas.


Aku masih di Negeri Sakura saat akhirnya musim panas tiba. Pada musim panas pun, Jepang memiliki pesona dan keindahannya tersendiri. Oh ya, aku sempat bermain di antara pohon-pohon bambu yang dihiasi warga di sana. Aku juga melihat mereka menulis sesuatu di selembar kertas. Lalu mereka melipat dan menggantungkannya di pohon bambu itu. Mama bilang mereka sedang merayakan Festival Tanabata musim panas. Masyarakat jepang meyakini jika mereka melakukan ritual tadi, keinginan mereka akan terwujud.


***
Aku senaaaang sekali. Aku berterima kasih pada Mama karena sudah mengajakku berkelana mengenal musim-musim dan tradisi yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai. Aku tersenyum melihat kembali gambar yang dulu menghampiriku. Sekarang aku mengerti cerita di balik gambar tesebut. Aku juga berbisik padanya, "Hei, aku juga sudah terbang melewati empat musim ajaib itu".














[Cerita Anak] Arnold & Buku Ajaib


Arnold dan Buku Ajaib
Oleh Mira Humaira

“Tidak, Robin. Aku tidak mau ke sana. Hutan itu terlalu menyeramkan” Arnold mengelus kepala anjing mungil kesayangannya. 

“Kau benar-benar tidak berani, Arnold?” sahut Robin sambil mengibaskan ekor pendeknya.

“Atau kau memang tidak mau menemaniku?” Robin kini mulai kesal. Ia berbalik meninggalkan Arnold.

“Bukan begitu, Robin. Tapi… “ Arnold tak bisa menjelaskan lagi.
***
“Hmm... aku benar-benar takut gelap. Bukannya di hutan selalu gelap? Bagaimana aku bisa menemani Robin ke sana?” Arnold berbicara sendiri sambil mengernyitkan dahi, berpikir.

Arnold tidak tega melihat Robin murung. Sejak kemarin, teman setianya itu tampak sedih. Robin sempat merengek, ia ingin bertemu dengan teman-temannya di sana. Tapi Arnold  tidak berani jika harus bermain di hutan. Itu sungguh tidak menyenangkan, 

Arnold bingung. Ia mondar-mandir terus di kamarnya. Hingga akhirnya, Arnold melihat sebuah buku sampul merah diatas meja belajar sang kakak, Aha! 

“Bukankah ini buku ajaib yang pernah dibicarakan Hazel. Ia bilang buku ini bisa menyelesaikan semua masalah apapun. Ah, pasti buku ajaib ini juga bisa membantuku” Arnold berkata dalam hati.

Arnold tersenyum dan merasa lega. 
***
“Hai, Robin!” sapa Arnold melempar senyum pada anjing putihnya.

Robin masih kelihatan cemberut. Namun, Arnold tetap senang melihatnya. Karena sekalipun Robin sedang manyun, anjing mungil itu tetap lucu dan menggemaskan. 

“Ayo kita ke hutan sekarang!” ajak Arnold. Ia berbicara meyakinkan.

“Kau serius, Arnold? Kau sudah berani?” Hore!” teriak Robin girang.
“Ayo!” 
“Eh, kau tidak membawa perbekalan apa pun?”
“Ah, tenang saja. Semua beres!” jawab Arnold.

Dengan gagah, Arnold melangkah menuju hutan. Pertama kalinya ia percaya diri memasuki hutan pinus hijau itu. Iya, kali ini, Arnold merasa tenang karena sudah membawa buku ajaib bersamanya. Semua pasti aman, pikirnya.
***
Mendekati jalan masuk hutan, Arnold mulai kedinginan. Angin berhembus kencang. Suasana mulai gelap. Dan...Oow, ia mulai ketakutan. 

Arnold mencoba tidak panik. Lalu ia mengambil buku ajaibnya, dan... “Dubidubidam! aku butuh cahaya. Ayo datanglah!” teriak Arnold tiba-tiba sambil memejamkan mata. Robin pun menyalak, terkejut. 

Arnold membuka matanya. Tapi, ups, tak ada yang berubah. Sepanjang jalan, hutan masih tetap gelap. Suara-suara jangkrik dan hewan lainnya malah mulai terdengar samar. Agak mengerikan.

Arnold merinding. “Heeu, kenapa tidak berhasil?”

Arnold mencoba cara lain, menggosoknya, membaca mantra abal-abal, melemparnya, mengayunnya... namun semua sia-sia. Masih tetap gelap. 

Anjing kecil itu heran melihat tingkah temannya. Apa yang dia lakukan?

Keadaan semakin mencekam saat tiba-tiba seekor beruang coklat berbulu tebal mendekat, meraung. Arnold yang sudah berkeringat dingin kembali mengambil bukunya. 

“Hai buku ajaib, ayo lawan beruang besar itu!” 

Krik...krik...krik
Tidak terjadi apa-apa.

Arnold kesal. Ia melempar buku merah itu.

“Ayo lariii!” teriak Arnold pada Robin.
Arnold berlari ketakutan. Robin pun ikut-ikutan padahal ia tidak takut sama sekali. Setelah cukup menjauhi hutan pinus hijau, mereka beristirahat di dekat sungai. 

“Eh, Robin. Kenapa kamu masih bawa buku itu. Hazel berbohong soal buku ajaibnya. Itu sama sekali tidak berguna,” Arnold berkata sambil ngos-ngosan. 

“Ini kan buku milik Hazel. Kamu harus mengembalikannya,” jawab Robin sambil menggigit buku itu di mulutnya.

“Hazel aneh. Buku yang tak bisa apa-apa dibilang ajaib,” seru Arnold kembali kesal.

“Kamu yang aneh, Arnold!” sergah Robin. “Hazel tidak pernah menggunakannya seperti yang kau lakukan tadi,” jelas Robin sinis.

“Hah? Lalu bagaimana ia menggunakannya?” tanya Arnold penasaran.

“Hazel membukanya dengan baik, lalu membacanya dengan seksama. Dan ia melakukan sesuatu setelahnya,” Robin bercerita.
***
Tiba di rumah, Arnold membolak-balik buku sampul merah itu. Ia penasaran. Sebelumnya, Arnold memang tidak pernah melihat isinya apalagi membacanya. 

Rupanya rasa penasarannya membuat Arnold berniat membuka buku merah ajaib yang dibilang Hazel. Apa ajaibnya buku ini?

Dibukanya lembar demi lembar buku ajaib itu. Ternyata Arnold langsung tertarik. Buku itu memuat gambar yang menggoda matanya. Sedikit demi sedikit, Arnold pun mulai membacanya. 

"Wah, di sini ada cerita petualangan, cara memasak pizza terenak, cara membuat ayunan, resep-resep makanan lezat, cara menyulam boneka, membuat mainan kardus, dan… Aha! Ada juga cara seru berpetualang di hutan," seru Arnold tiba-tiba sambil membuka-buka lembaran buku penuh semangat.

Arnold pun membacanya perlahan dan teliti. Matanya berbinar seolah mendapatkan harta karun yang selama ini tersembunyi.

Dalam hatinya, Arnold bergumam, “Benar saja, buku ini memang bisa menyelesaikan masalahku. Terima kasih buku ajaib”. 
***
Keesokan harinya, Arnold mengajak kembali Robin, “Ayo Robin, kita akan menjelajah hutan pinus hijau!”

“Kau tidak akan berulah aneh lagi, kan, Arnold?” tanya Robin mengejek.

“Tentu tidak. Tenang saja, kan ada buku ajaib ini,” seru Arnold menunjukkan buku merah

“Oh tidak. Kau akan menggunakannya seperti tongkat sihir lagi? Itu memalukan sekali,” sahut Robin menempelkan satu kakinya di kening.

“Hahaha... tenang saja! Aku sudah tahu mantranya” kata Arnold mengerlingkan matanya. “Iya, Robin. Seperti yang dilakukan Hazel. Aku harus membacanya!” tambah Arnold. 

“Ayo aku sudah siapkan semua. Mari kita berangkat!” ajak Arnold dengan tas ransel penuh di punggungnya. 

Kali ini Arnold tak hanya membawa buku ajaibnya. Tas punggungnya penuh dengan perbekalan dan perlengkapan. Seperti yang ia baca dari buku ajaib itu, ia harus membawa senter, beberapa lampu dan batrei, tempat tidur ayunan dari kain (hammock), makanan-minuman, obat-obatan, scarf, topi,  buku dongeng, juga tips lainnya.

“Kau tidak takut lagi beruang atau binatang hutan lain mendekatimu lagi, Arnold?” tanya Robin ragu saat mereka mulai menuju gerbang hutan.

“Percaya padaku. Aku tahu cara mengatasinya!” yakin Arnold. “Aku tahu cara berteman baik dengan mereka. Aku sudah membacanya,” jelas Arnold girang sambil mengangkat buku merah ajaib Hazel.

“Waw, benar-benar buku ajaib!” sahut Robin.

Sekarang Arnold mengerti mengapa buku itu ajaib, bahkan semua buku yang ada di dunia pasti ajaib. Karena di sana ada pengetahuan dan ilmu yang akan membantu menyelesaikan segala masalah dan tantangan kita. Dan satu-satunya mantra untuk melihat keajaibannya adalah dengan membacanya. 

(Sumber: https://ebookfriendly.com)

















[REVIEW BUKU] Gia, The Diary of Little Angle - Tawakkal Hadapi Kanker Ganas


Judul                 : Gia, The Diary of a Little Angel 
Penulis              : Irma Irawati
Penerbit            : Bhuana Sastra
Tahun Terbit    : 2018
Tebal                 :140 halaman
ISBN                 : 978-602-455-309-8

Perjuangan Hadapi Acute Myeloid Leukimia

Sakit merupakan ujian dari Allah SWT. Ia bisa saja hanya sekadar musibah jika hanya diratapi. Namun, jika ditengok lebih dalam, sungguh sakit bisa menjelma menjadi sebuah anugerah. Bagaimana tidak, karenanya dosa maupun kesalahan bisa diampuni, pahala pun dilipatgandakan.  

Tawakkal adalah kuncinya. Bagaimana sikap kita dalam menerima takdir yang Allah tentukan. Ridha, ikhlas, atau justru mengutuknya?

Buku ini berkisah tentang seorang gadis kecil yang diberikan ujian oleh Allah berupa sakit yang cukup berat. Bahkan dokter ahli mengungkapkan bahwa penyakit ini tergolong langka menyerang anak-anak. 

Nazila Apregia Reigane, yang biasa disapa dengan nama De Gia, di usianya yang baru menginjak 10 tahun, divonis menderita penyakit Acute Myeloid Leukimia (AML), sejenis kanker dimana sumsum tulang belakang selaku pabrik pembuat sel darah menghasilkan sel-sel darah yang tidak normal. 

Dalam kisahnya, begitu banyak pelajaran hidup dan pesan moral yang dapat diambil. Bagaimana De Gia berjuang menghadapi dan berdamai dengan sakitnya. Menyerahkan sakit dan keluhnya hanya pada Allah yang Maha menyembuhkan. De Gia berusaha tawakkal.

Saat ia duduk di kelas 4 MI (setara SD), De Gia mulai merasakan tubuhnya cepat lelah sampai ia beberapa kali bolos mengepel teras rumah. Setiap usai mengikuti pelajaran olah raga, badannya demam sehingga esoknya tidak bisa bersekolah.

Kagumnya, sejak ia mulai merasakan tubuhnya mulai ada yang berubah, De Gia tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia menutup rapat sakitnya dari orang-orang terdekat. De Gia hanya bercerita pada diari kesayangannya.

Hingga pada suatu hari, karena kondisinya yang tidak juga membaik akhirnya De Gia harus dirawat di sebuah  rumah sakit di Ciamis dan sampai harus dirujuk ke rumah sakit di Bandung. Disana lah baru diketahui, De Gia mengidap penyakit AML.

Mamah, sosok tegar yang selalu menemani Gia,  Memberikan peran penting dalam kisah ini. Ia yang selalu menenangkan Gia dan mengajaknya untuk selalu ikhlas kepada Allah. Kunci untuk bisa sembuh juga, salah satunya, kita mau berdamai dengan penyakit yang menyerang. Jangan diratapi, tapi terima apa adanya dengan ikhlas. (Hal. 67)

Begitu pun dengan Apah, panggilan sayang De Gia pada ayahnya. Apah selalu meyakinkan bahwa apapun penyakitnya, yang penting De Gia yakin, Allah yang akan menyembuhkan. Allah yang memberikan penyakit, pasti Allah yang punya obatnya.

Serangkaian pemeriksaan, operasi, hingga kemoterapi ia jalani. Tubuhnya semakin kurus, rambut panjang ikalnya pun semakin rontok. Dengan kondisinya seperti itu, tidak membuatnya minder. Apalagi dengan dukungan orang tua dan ketiga kakak perempuannya, De Gia tetap semangat dan ceria bahkan ia masih sempat meng-upload video dan meme dengan kepalanya yang botak.

Cukup lama ia terbaring di ranjang rumah Sakit. De Gia merindukan sekolah, guru, dan teman-temannya. Di sekolah, Sosok Gia dikenal sebagai pahlawan bagi teman-teman perempuanya karena ia sering membela mereka dari usilnya bocah-bocah lelaki. Namun, di balik perkasanya Gia, ia memiliki hati yang lembut. Rasa empatinya tinggi. Ia selalu tergerak untuk membantu temannya yang kesusahan. Gia rela membobol celengannya sendiri untuk membelikan teman nya sebuah tas baru. Tak jarang, Gia pun selalu menyisihkan sebagian uang bekalnya untuk diberikan pada seorang teman yang tak bisa jajan karena tak punya uang.

Sakit tak membuatnya berhenti menebar kebaikan. Suatu sore di bulan Ramadhan, Gia yang sudah tak berdaya untuk berjalan digendong Apah berkeliling bazar ramadhan di komplek pesantren. Tak lupa membawa uang tabungannya, ia sempatkan untuk bisa berbagi di sana. Tak disangka itulah Ramadhan terakhir baginya.

Sakit tak membuatnya juga lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah. Hal ini De Gia tunjukan selama sakit pun, ia tidak pernah meninggalkan shalat wajibnya.

Sakit adalah salah satu pengingat bahwa tidak adanya keabadian di dunia ini. Begitu pun sakit yang dialami De Gia akhirnya berteman dengan kematian. Setelah 10 bulan perjuangannya, ia baru berbisik pada Mamah bahwa ia sudah tak kuat. Dalam pelukan hangat Mamah, De Gia menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada yang mampu melawan ketetapan Sang Pemilik jiwa. Dengannya, tugas dan misi De Gia di dunia telah usai.

Diangkat dari kisah nyata, Buku ini memiliki kekuatan sendiri dalam mengaduk-aduk emosi pembaca. Penulis, Irma Irawati, pun berhasil menghadirkan sosok Gia begitu hidup. Setiap penggalan kisah dalam buku ini, mewakili karakter yang dimilikinya.

Sebagaimana judul buku ini, diary of a little angel. Setiap sub judul dalam kisah ini memang menyertakan cuplikan diari Gia. Hal tersebut menguatkan setiap konflik dalam ceritanya. 

Membaca buku ini, kita dibuat tertegun dengan keelokan akhlak seorang gadis berhati malaikat ini. Merasa tertampar jika masih saja mengeluh dengan sakit yang tak seberapa. Merasa malu jika belum mau berbagi dengan sesama. Penulis berhasil menularkan energi kebaikan De Gia kepada pembaca lewat tulisannya.

Buku dengan isi cerita sekitar 100 halaman ini cukup tipis. Ditambah dengan bahasa yang ringan dan sederhana, tampaknya bukan sekadar bisa dinikmati oleh orang dewasa. Buku ini juga cocok dinikmati oleh kalangan pembaca anak.

Karya Teh Irma Irawati ini termasuk dalam kategori Fiksi/ Novel. Padahal jika dilihat dari sumber dan latar belakang kisah ini, buku ini mungkin bisa juga masuk dalam genre kisah inspiratif.







[Bingkai Liburan] D’DIEULAND, pilihan asik liburan keluarga di kawasan Bandung Utara. Murah meriah!

(Sumber gambar: http://javawisata.com)
Memang bukan hal yang baru dan aneh jika Bandung selalu menghadirkan tempat-tempat unik dan kreatif. Lagi-lagi ada tempat baru yang mesti dikunjungi, apalagi buat kamu para pecinta wisata, tempat yang relatif baru ini juga wajib kamu nikmati. 

Berbagi cerita keseruan aja nih, liburan kemarin akhirnya kami mengunjungi juga tempat wisata satu ini, D’dieuland. Awalnya, sempat kesulitan membaca nama tempat ini. Namun, kalau diperhatikan, Oyaya… nama tempat ini rupanya gabungan dari kata ‘Didieu’ bahasa sunda yang berarti disini, dan bahasa inggris, ‘Land’ (tanah). Bagi lidah orang sunda tentu sudah tidak asing lagi dengan pengucapan istilah ini, ya.

Oya, katanya nih, mulanya tempat ini akan diberi nama ‘Disiniland’, tapi jadi mirip-mirip nama Disneyland di Amerika, ya. (Banyak yang gak setuju, katanya). Nah, kebetulan lokasinya di Bandung dan biar ada unsur khas daerahnya, akhirnya si pemilik memutuskan memberi nama ‘Didieuland’.

Didieuland ini merupakan tempat wisata yang terbilang baru loh di Bandung. Baru opening bulan Desember 2017 lalu, belum genap setahun. Masih fresh!

Berawal dari update-an instagram teman yang lagi menikmati pesona alam bandung dari tempat yang terlihat keren, ditambah juga ada playground buat anak-anak, Wah! langsung deh mengusulkan tempat ini masuk list liburan kali ini. 

Selamat Datang di Didieuland!

(Galeri foto pribadi)
Tiket masuknya berapa, mahal gak sih? 
Tak perlu merogoh kocek banyak, cukup dengan 10 ribu rupiah/orang (weekday) kita udah bisa masuk nongkrong di lokasi Didieuland. Bagi yang membawa serta anak-anak dan ingin main sepuasnya di playground, tiket dibandrol 50 ribu/ anak. Ini terbilang cukup murah, loh, karena tidak dibatasi waktu. Sepuasnya! Orang tua jika mau mendampingi juga, gak perlu bayar lagi kok

Indoor Playground 
(Sumber gambar: http://www.destinasibandung.co.id)
Nah, tujuan utama kami kemarin langsung menemani anak-anak main di playground. Yang penting bikin anak anteng dulu. Tersedia 2 arena playground di Didieuland, yaitu indoor playground, dekat dari pintu masuk dan outdoor playground, untuk menuju ke sana kita harus berjalan dulu ke bawah. 


Outdoor Playground (Galeri foto pribadi)
Outdoor Playground (Galeri foto pribadi)


Outdoor Playground (Galeri foto pribadi)

Tentunya, Aa Izz pertama kali langsung meluncur semangat ke indoor playground dong!. Oh, ya, jangan lupa harus memakai kaus kaki ya masuk area ini. Ada perosotan cukup panjang yang cukup menantang, trampolin, mandi bola, dan game tantangan lainnya.


Indoor Playground (Galeri foto pribadi) 

Indoor Playground ( Galeri foto pribadi )

Didieuland merupakan tempat nongkrong yang asyik dan tidak membosankan. Hal ini menjadi poin penting buat suami nih. Karena selama anak-anak asik di playground, si Ayah bisa santai nyicip kopi di kafe sambil nongkrong nikmatin pesona alam Bandung dari ketinggian.

( Galeri foto pribadi )
Setelah asyik main di indoor playground, kita mulai jalan-jalan mengelilingi semua area Didieuland sambil menuju ke tempat outdoor playground. Ah, keren deh!. Kita bisa menjumpai banyak spot yang instagenic. Banyak tempat nongkrong asyik juga, yang tersedia dengan tempat-tempat duduk unik. Intip gambar-gambar berikut!

( Galeri foto pribadi)

( Galeri foto pribadi)
( Galeri foto pribadi )
( Sumber gambar: Ig @d.dieuland)
Sepanjang  mengililingi area Didieuland kita berjalan di skywalk. Seru! Walaupun saat itu sudah sore dan angin terasa semakin kencang, Aa Izz masih tetap menikmati suasananya dengan ceria.

Overall, enakeun pokona mah! Apalagi saat kami berkunjung kemarin bukan di saat weekend dan masa liburan, jadi terasa puas sekali karena tidak terlalu banyak pengunjung. Jadi, kami menikmatinya dengan santai.

( Galeri foto pribadi )
( Galeri foto pribadi)

Untuk fasilitas toilet cukup baik dan nyaman. Tersedia tidak hanya di satu spot. Terdapat musholla juga yang berdekatan dengan spot bis. Walaupun mushollanya terbilang cukup kecil ya tapi lumayan lah dari pada harus keluar dulu area. 

(Sumber gambar: www.destinasibandung.co.id)

Hampir seharian, kami asyik main di sini. Spesial buat Aa Izz, puas sekali doi bolak-balik main di playground. Menjelang malam, kami masih di kawasan wisata punclut dan saat maghrib tiba kami shalat di masjid dekat parkiran, masih dekat dengan lokasi Didieuland.

Berkunjung dan bermain di kawasan Bandung tentu tidak lengkap jika tidak menikmati kuliner khasnya. Di luar lokasi didieuland, terdapat banyak tempat makan yang tidak kalah indahnya menawarkan tempat dan sajiannya yang unik. 

Area tempat makan dekat parkiran
 ( Galeri foto pribadi )

Namun, jika berniat untuk makan di luar lokasi wisata, tak perlu khawatir karena kita akan mudah menemukan tempat makan lesehan di sepanjang jalan kawasan ini. Cucok sekali, setelah seharian menghabiskan waktu bermain di Didieuland, dalam suasana dingin kemudian perut kosong diisi dengan suguhan ikan bakar dan nasi merah di tempat makan lesehan sambil menikmati kerlap kerlip pemandangan kota Bandung dari dataran tinggi. 


Didieuland saat malam hari tampak lebih indah loh. Kamu harus coba! jam buka Didieuland dimulai dari jam 09.00 hingga jam 22.00 Wib.  Nah, buat yang lagi dan mau liburan ke Bandung, harus coba mampir deh. Alamatnya dimana?

Alamat D’DieuLand Bandung selengkapnya berada di Jl. Pagermaneuh No.1 Bandung, Kawasan Wiasata Punclut, Bandung Utara.

Selamat Berlibur!






KIS: Sang Penerang


Kisah Inspiratif:
SANG PENERANG
Oleh: Mira Humaira

“Pak Hazem itu penghancur Kampung Madani!”
“Selama Haji Hazem hidup, kampung ini gak akan pernah maju!”

Suara-suara garang itu memekik di telinga. Tak enak tapi jelas terdengar. Siapakah dia, sepertinya orang yang dituju itu sosok penjahat kelas kakap.

Di pojok kelas itu tampak seorang gadis berkerudung putih mengepalkan tangan, geram. Azima namanya.
***

“Tuduhan jahat!”, lirih Azima. Tak sadar ia menitikkan air mata sembari memandang wajah sepuh bermata sayu di hadapannya. Ia berusaha ceria tetap tersenyum menemani sosok itu, sosok yang menjadi objek suara-suara garang tadi. 

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”, Sang Kakek berbicara tentang renungan di sore itu. Azima menyimak khusyu. Dilanjutkan cerita nostalgia tentang masa perjuangannya membangun Kampung Madani, Pak Hazem terlarut dalam ceritanya sendiri, tertawa dan sesekali terisak mengingat masa-masa enerjik bersama kawan-kawannya.

Entah bagaimana yang dirasakan Azima saat itu, yang terlihat hanya gurat gemas ingin berteriak, ingin menyampaikan pada dunia apa yang sebenarnya terjadi. Di sudut pikirannya yang lain, bagaimana bisa sebuah sejarah bisa dilupakan bahkan dinodai dengan sengaja oleh segelintir provokator penebar kebencian.

Kampung Madani adalah sejarah warisan leluhur kakeknya, yang dulu dibangun bersama-sama untuk kemaslahatan dan kemajuan pendidikan masyarakat sekitar. Pada mulanya, fokus untuk dasar pendidikan keagamaan (pengajian) lalu berkembang sehingga bisa berdiri juga sekolah-sekolah umum yang tetap mengedapankan nilai religi.

Tak jelas mulai dari mana, berbagai konflik intern mulai bermunculan. Para pendiri satu persatu sudah tiada, generasi berikutnya mulai mencuatkan masalah yang semakin kontras, kekuasaan mulai dipersilisihkan dan diperebutkan.

Pak Hazem, salah satu pendiri yang masih hidup, salah satu tokoh utama yang berjuang keras atas berdirinya kampung itu. Karena suatu perbedaan pendapat dengan pengurus kampung madani yang sebenarnya masih terikat keluarga sendiri, mulailah kampung itu memanas. Berbagai fitnah tertuju padanya. Virus kebencian pada sosoknya disebarkan pada santri-santri.

Doktrin Sang pembenci mengena di otak para santri dan sebagian masyarakat. Dengan entengnya, hinaan dari para santri muda yang masih polos tertuju pada Pak Hazem, padahal mereka tak tahu sebenarnya, bagaimana sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk Kampung Madani, tempat yang ia cintai dengan nafas dan darahnya. Ironis, malah mereka menganggap sosok Pak Hazem sebagai penghancur kampung madani.

Azima, seorang gadis kritis, tak bisa tinggal diam menyimak terus menerus ketidakadilan itu. Ia ingin bersuara. Saatnya tampil berani memutus rantai cerita kebohongan yang semakin memanas itu. 

Melihat gelagat cucu kesayangannya mulai bersirat dendam, Sang Kakek menyodorkan sebuah buku kecil coretan tangannya. Tak berkata lalu ia kembali beristirahat menuju kamarnya. Azima yang selalu tertarik membaca, langsung membuka lembaran demi lembaran dan menikmati waktu dengan tulisan-tulisan di dalamnya.
Seandainya semua manusia bisa mengamalkan tiga hal berikut, betapa akan indahnya alam dunia ini, ‘bakal tiis ceuli herang panon, hirup bakal tingtrim, genah, merenah, tur tumaninah’. Tidak akan ada perpecehan antara saudara, keluarga, apalagi sampai ada peperangan.
Kalimat pembuka di suatu halaman buku itu membuatnya menunduk. Azima melanjutkannya khusyu, kemudian disana tertulis sebuah hadits rasul yang diterjemahkan dalam bahasa sunda. 

**Aya tilu rupa pagawean, sing saha anu bisa ngamalkeun kana eta anu tilu, Allah bakal ngentengkeun kana hisabanana, oge pasti Allah bakal ngasupkeun manehna ka surga; 

Hidep kudu daek kikiriman ka jalma anu geus teu daek ngirim ka hidep. Hidep kudu daek ngahampura ka jalma nu boga laku dzalim ka hidep. Hidep kudu daek sumolondo (ngarakerkeun deui kawargian) ka jalma anu geus ngajauhan ka hidep.

Azima menangis, tersindir malu. Rasa dendam yang pernah terbersit itu rupanya terbaca oleh Sang Kakek. Azima sungguh malu. Bukan ia yang terdzalimi namun ia yang mendendam. Ia menghibur diri, merenung kembali, ‘baiklah biar semesta yang berbicara pada saatnya yang tepat’, lirihnya dalam hati.  

Namun suara-suara garang itu masih saja terdengar, sekalipun ia menutup kupingnya lekat. Tapi kini hatinya lebih dingin, mengingat kembali tulisan-tulisan di Amanah (nama buku tulisan-tulisan Pak Hazem). Berisi pesan-pesan (amanah) sang kakek untuk anak cucu generasinya tentang AMAr ma’ruf NAHyi munkar (AMANAH). 

Beberapa bulan sejak hari itu, kabar sang kakek tiada makin menghancurkan jiwa Azima. Namun, saat kembali mengingat sejarah hidup sang kakek, ia kembali tersenyum bangga.

Ragamu kini tiada namun sinar yang telah kau hidupkan di Kampung ini tak akan pernah sirna, sebagaimana nama yang tersemat untukmu, Hazem Siradj, kau lah sang penerang. Semoga Allah mengampunimu. Azima menyeka air matanya, menunduk kembali, berdoa. 
_____________________
**Ada tiga perkara yang barang siapa mengamalkannya, Allah akan meringankan hisab dan memasukannya ke dalam surga; 
Hendaklah kalian berbagi dengan orang yang sudah tidak mau berbagi dengamu, maafkanlah orang yang sudah berlaku dzalim padamu, dan eratkanlah persaudaraan dengan orang yang sudah menjauhimu.

Cerita Anak: MONI HILANG!

Moni Hilang!
Oleh Mira Humaira
http://www.progressivedirectory.com


Pagi ini Moni bangun tidur dengan sigap. Ia kemudian mandi dengan bersemangat lalu membereskan tempat tidur dengan riang. Hari ini Moni sungguh senang karena bibi dan sepupunya akan datang.

“Ibu, aku bantu memasak, ya!” seru Moni setelah selesai menyantap roti selai pisang kesukaannya.

“Wah, Moni semangat sekali. Terima kasih mau membantu ibu,” kata Ibu dengan senyumnya.

“Iya, Bu. Nanti Bibi Minki dan Onet juga kan harus nyobain puding buatanku,” ujar Moni percaya diri sambil merapikan ikat rambut merahnya.

Pagi menjelang siang, Moni dan Ibu sibuk mengolah aneka makanan di dapur. Tidak lama kemudian, suara bel berbunyi ‘ting...tong...ting...tong!'

Moni sangat gembira rupanya Onet dan Bibi Minki sudah tiba. Moni sangat merindukan mereka karena sudah lama Onet tidak berkunjung ke rumah Moni.
***

“Taraa...ini puding pisang spesial buatanku. Kalian harus mencobanya!” seru Moni sambil menyajikan puding berwarna kuning cerah dan menyiapkan piring-piring kecil untuk Bibi Minki dan Onet.

“Kamu sudah pintar memasak ya, Moni!” kata Bibi Minki memuji. Moni pun tertawa bangga, “siapa dulu doong, Moni….”

Moni, ibu, Bibi Minki, dan Onet menyantap lezatnya puding buatan Moni. Tidak lupa juga Moni menyuguhkan olahan makanan lain buatan Ibu yang tak kalah spesial enaknya, ada banana cake, banana nugget coklat, sup pisang kacang, juga keripik pisang khas buatan ibu.
www.pinterest.com


Setelah semuanya makan bersama, tidak lupa juga Ibu menyuruh Moni untuk membagikan sebagian makanan kepada para tetangga. Itulah yang selalu diajarkan ibu kepada Moni, jika kita membuat makanan apalagi dengan jumlah banyak kita harus juga berbagi kepada tetangga agar mereka ikut mencicipi dan tidak hanya mencium bau enaknya saja, begitu kata Ibu yang selalu diingatnya.

“Moni, ini makanan buat Paman Donki. Bungkusan yang warna merah untuk Bibi Miki dan Kido, ya.  Itu spesial loh karena ada permen pisang kesukaannya Kido,” jelas Ibu sambil menyerahkan dua bungkusan makanan yang diikat rapi.

“Baik, Bu. Oh ya, boleh aku pergi bersama Onet?” tanya Moni sambil memandang wajah Ibu dan Bibi Minki.

“Tentu saja. Kalian boleh pergi bersama. Hati-hati ya. Kalian harus langsung kembali pulang,” kata Bibi Minki mengizinkan.

“Yeee!”
Moni dan Onet senang.
Sepanjang perjalanan Moni dan Onet saling bercerita dan tertawa bersama. Kali ini Moni dengan senang hati mengajak Onet berjalan mengitari desa. Moni tahu kalau Onet, sepupunya yang berkaca mata itu, sangat gembira jika diajak jalan-jalan dan bertualamg.

Sepulang dari rumah Paman Donki dan Bibi Miki.
“Eh lihat, Onet. Di sana banyak sekali akar dan ranting gantung bergelayunan. Main ke sana, yuk.” ajak Moni.

“Aku pasti mau sekali, tapi bukankah kita harus segera langsung pulang?” tanya Onet ragu.

“Sebentar saja, pasti seru sekali. Ayo ikut aku,” Moni terus berjalan dan berbelok ke arah hutan.

Onet yang senang bertualang tentu saja tergoda dengan ajakan Moni.
“Baiklah Moni tapi kita hanya sebentar saja di sini” Onet meyakinkan sepupunya itu. Bukannya tidak berani tapi Onet ingat pesan ibunya, mereka harus langsung pulang setelah mengantar makanan.

“Iya Onet, santai aja. Aku ingat pesan Bibi”, seru Moni.

Moni dan Onet pun asik bergelantungan di ranting gantung pohon. Bagi mereka, di sana seperti wahana bermain yang asyik dan menantang. Satu demi satu pohon tinggi besar dengan ranting gantung mereka lewati. Onet bergelayun terampil ke sana ke mari. Mereka tertawa bersama menikmatinya.

Hingga akhirnya suara Onet tak terdengar lagi, rupanya mereka terpisah. Moni tiba-tiba berhenti dan menyadari Onet sudah tidak bersamanya.

“Ooh tidak. Onet kamu dimana?” teriak Moni mulai panik
Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara sahutan burung hantu di atas pepohonan.

Moni berusaha mencari Onet. Dia menangis sambil menyeru nama Onet. Moni terus berjalan ke dalam hutan. Ia tidak mau pulang sebelum menemukan sepupunya.

Hari sudah mulai senja. Matahari sudah hendak pulang. Itu tandanya hari akan mulai gelap. Moni masih mencari Onet. Moni pun masih terus menangis. Ia sendiri dan kali ini mulai ketakutan.
***

“Moni… Moni… Moni!’
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Moni terkejut, ia berharap sudah berada dekat dengan Onet. Moni mendekati suara tadi. Namun, tidak lama kemudian ia baru sadar itu bukanlah suara Onet sepupunya.

“Moni… Moni… Moni!”
Itu bukan Onet.
Tapi…
Itu suara Ibu.

“Ibuuuu…!”
Teriak Moni sambil sesenggukan. Moni memeluk ibu karena ketakutan. Moni takut gelap dan ia lebih takut lagi karena Onet belum ia temukan.

“Ibu...aku takuuut,” Moni masih terus menangis. Ibu menenangkan Moni dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. Ibu menggendong Moni dengan penuh kehangatan.

Sesampainya di rumah,
“Maafkan aku Ibu… Onet tidak ada,” Moni menangis tambah kencang.

“Stttt….,” Bibi Minki keluar dari kamar Moni memberi tanda agar tidak berisik.

Bibi Minki menghampiri Moni sambil tersenyum. Moni heran, ia pikir sang Bibi akan marah karena ulahnya.

“Ayo, Moni istirahat saja dulu,” ajak bibinya.
“Tapi...Onet, Onet hilang, Bibi.” Moni masih merasa bersalah. Bibi Minki kembali tersenyum.

“Stt...lihat di sana!” telunjuk Bibi Minki mengarah ke tempat tidur Moni.

Moni tiba-tiba menangis kembali.
“Huu...huu...huu”
Namun, kali ini bukan karena takut dan sedih tapi Moni merasa terharu dan bahagia. Rupanya sepupu kecilnya, Onet, sedang tidur pulas di ranjang pink kesayangannya.

Moni langsung memeluk Bibi Minki. Ia meminta maaf pada Bibi karena tidak menuruti pesannya untuk segera pulang. Moni juga meminta maaf pada Ibu karena tidak meminta izin untuk bermain ke hutan.

“Tidak apa-apa, sayang. Lain kali Moni harus bilang dulu kalau mau bermain di hutan. Tadi katanya Onet sempat tersesat. Beruntungnya, tadi Onet berpapasan dengan Pak Dodong, beliau yang mengantar Onet ke rumah.” jelas Ibu

“Justru kami lebih khawatir padamu, Moni. Syukurlah kamu tidak apa-apa,” ujar Bibi Minki.

Moni mengusap air matanya dan kembali memeluk ibu. Moni sangat sayang pada Onet. Moni takut terjadi hal buruk pada sepupunya itu. Moni juga sayang pada Ibu dan Bibi Minki yang begitu perhatian dan sayang padanya.

www.pinterest.com


#30DEM #05/30
#Fabel
#CeritaMoni




Petualangan Bani dan Bon-Bon: Kawan Baru Taman Laut Wakatobi

Seri Petualangan Bani dan Bon-Bon:

Tamu Spesial Bawah Laut
(Bagian II)
Oleh Mira Humaira

www,pinterest.com

Bani dan Bon-Bon bersiap menuju lokasi spot diving. Untuk menuju kesana mereka harus menaiki perahu karet kemudian menuju dive boat. 

“Semuanya sudah diperiksa dan aman kan, Bani?” tanya Bon-Bon meyakinkan
“Siap, Bon-Bon. Aku sudah memakai semua perlengkapannya,” jawab Bani sambil mengacungkan jempol.
“Oke. Tidak perlu panik ya saat mulai menyelam dan tetaplah bernafas secara stabil saat di dalam air,” jelas Bon-Bon.

“Siap, Master Bon-Bon. Sebelumnya, ayah juga sudah mengajariku cara menyelam yang benar. Jadi kamu tenang saja, “ Bani meyakinkan.
“Baiklah. Ayo kita mulai petualangan di bawah laut!!” teriak Bon-Bon bersemangat.
***
Tubuh mungil Bani dan Bon-Bon mulai memasuki air yang saat itu terasa hangat. Semakin dalam mereka menyelam semakin banyak pemandangan indah yang mereka lihat. Saat berada di antara terumbu karang yang cantik, mereka bertemu dengan penyu hijau, lobster, dan ikan ekor pelangi.

www.wisatasulawesi.com

Bani dan Bon-Bon rupanya sudah lentur bergerak di bawah laut. Dengan cepat dan terampil, mereka pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga tibalah mereka di suatu tempat yang begitu ramai.

“Lihat, Bon-Bon. Sepertinya disana sedang ada pesta!”
“Iya Bani. Ayo kita ke sana sambil berkenalan.”

“Permisi, apa kami boleh bergabung?” sapa Bani mendekati seekor ikan yang berukuran cukup besar dengan bibir tebal dan tonjolan di kepalanya.

“Silakan. Kami sedang mengadakan pesta musim hangat. Kenalkan, aku Napoleon.”

Cheilinus undulatus (https://nusantara.news)
Bani dan Bon-Bon tersenyum dan berterima kasih pada ikan berkepala biru itu. Ternyata Napoleon baik dan ramah walau wajahnya sedikit menakutkan, hihi.

Bani dan Bon-Bon semakin merasa takjub. Di sana, mereka bertemu dengan banyak jenis ikan yang baru mereka kenal.
  Tahukah teman-teman, diperkirakan kekayaan jenis ikan di taman bawah laut wakatobi  terdiri dari 93 jenis loh dan lebih dari 112 jenis karang menghiasi oceania ini. 
Bani dan Bon-Bon akhirnya ikut asyik berpesta juga bersama ikan-ikan dan biota laut lainnya. Ada yang bernyanyi, menari, bermain musik, dan main berkejaran. Seru sekali.

Di tengah keseruan acara pesta. Tiba-tiba dari kegelapan Bani melihat makhluk berukuran besar sekali menghampiri tempat pesta. Bani berteriak, “Awaas! Ada monster laut. Ayo lariii!!”.
Bon-Bon pun ikut panik siap berlari.

Manta birostris (www.merdeka.com)
Alih-alih ikut lari bersama mereka. Teman-teman di pesta lain tetap tenang malah ada yang terkekeh melihat tingkah Bani dan Bon-Bon. Napoleon pun tertawa kencang membuat Bani, juga Bon-Bon kembali menoleh ke belakang dan berhenti berlari.

Physeter macrocephalus (www.duniahewanbinatang.com)
“Kalian tak perlu takut. Kenalkan, meraka adalah Piter dan Manta. Mereka adalah tamu spesial kami,” jelas Napoleon mendekati Bani dan Bon-Bon.

Monster laut yang dikira Bani rupanya adalah seekor ikan Paus besar berkepala kotak dan ikan Pari dengan tubuh pipihnya yang sangat lebar.

“Mereka penghuni laut wakatobi juga, ya?”
“Mereka sebenarnya tidak tinggal disini kok. Piter dan Manta hanya bermain di sini, bulan November ini adalah waktu mereka singgah kemari,” cerita Napoleon.
“Makanya biasanya kami membuat pesta musim hangat untuk menyambut tamu-tamu spesial kami di taman laut ini.” tambahnya.

“Halo teman-teman penyelam, kalian tamu juga ya?” tiba-tiba Piter mendekat ke arah Bani dan Bon-Bon.
“Iya, Piter. Kenalkan aku Bon-Bon. Itu saudaraku, Bani.” Bon-Bon menyapa kembali tanpa ragu.

“Senang berkenalan dengan kalian, Kami disini sedang singgah karena perairan belahan bumi lain sedang dingin bahkan membeku. Sedangkan di taman laut ini relatif terasa hangat, jadi kami biasanya mampir dan bermain dulu di sini,” Piter bercerita.

“Aku juga senang kala berkunjung kesini, selain tempatnya yang begitu indah dan nyaman, teman-teman taman laut wakatobi baik sekali. Mereka selalu menyambut kami dengan pesta yang meriah,” tambah Piter sambil tersenyum.

“Disini juga banyak makanan, jadi kami tidak akan kelaparan, hihi” tiba-tiba Manta si ikan pari ikut bergabung.

“Hai, senang bertemu denganmu, Manta. Aku tadi terkejut melihatmu. Tubuhmu besar dan lebar sekali,” sahut Bani.

“Hahaha tentu saja. Aku kan spesies ikan pari terbesar di dunia. Lihat sirip dadaku lebar sekali, bukan?. Kalian tahu, ada juga yang menyebutku pari elang karena siripku lebar dan aku bisa berenang bebas seperti elang yang sedang terbang di udara,” kata Manta sambil mengibaskan sirip andalannya.

“Itu keren sekali, Manta!” serui Bani dan Bon-Bon bersamaan.

Taman bawah Laut Wakatobi (www.kompasiana.com)
Tak terasa Bani dan Bon-Bon melewatkan pesta itu cukup lama. Mereka senang bisa bergabung dan berkenalan dengan banyak penduduk bawah laut.

“Kami senang sekali bisa ikut pesta kalian. Tapi kami harus pamit ya, teman-teman. Kami ingin mengunjungi tempat-tempat indah lainnya di taman laut wakatobi ini.” Kata Bani

“Oh sayang sekali. Tapi baiklah selamat menjelajahi surga bawah laut. Kalian harus berhati-hati dan menjaga baik-baik biota laut di sini, ya’ kata Napoleon

“Iya tentu saja, Napoleon. Oh ya, boleh kita berfoto dulu,” ajak Bon-Bon pada Napoleon, Piter, dan Manta.

Dengan senang hati mereka mengabadikan momen pertemuan mereka di taman laut Wakatobi yang dikenal dengan surga bawah laut itu. Akhirnya Bani dan Bon-Bon pun memiliki kenangan bersama kawan-kawan barunya dari Wakatobi.

Surga Bawah laut Wakatobi (www.deeperblue.com)

#30DEMJilid2 #04/30
#SeriPetualangan #JejakAlamIndonesia
#TamanNasionalLautWakatobi #PulauWakatobi
#PetualanganBani&BonBon

Ikuti juga cerita petualangan lainnya disini:
1. Petualangan Bani dan Bon-Bon: Pantai Kura-Kura Raksasa, Pulau Lombok
2. Petualangan Bani dan Bon-Bon: Gunung Rinjani, Pulau Lombok
3. Petualangan Bani dan Bon-Bon: Taman Nasional Laut Wakatobi 

Sumber:

  • https://travelingyuk.com/aturan-saat-menyelam/18770/
  • https://travel.kompas.com/read/2013/08/16/1110535/Wakatobi.Surga.Bawah.Laut.yang.Menakjubkan
  • http://infosiana.net/ikan-napoleon/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_pari_manta